Rupiah Tertekan, Berbalik Melemah ke Rp17.649 per Dolar AS di Tengah Gejolak Harga Minyak dan Konflik Iran-AS

Daftar Isi



JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan pada perdagangan Senin, 14 September 2026. Pergerakan mata uang Garuda berlangsung fluktuatif di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS), meningkatnya ketegangan geopolitik Iran-AS, serta lonjakan harga minyak mentah dunia yang telah menembus level US$100 per barel.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak melemah pada perdagangan awal pekan dalam kisaran Rp17.610 hingga Rp17.650 per dolar AS.
Sementara untuk perdagangan selama sepekan ke depan, rupiah diproyeksikan berada pada rentang yang lebih lebar, yakni Rp17.500 hingga Rp17.850 per dolar AS.
Rupiah Sempat Menguat, Kemudian Berbalik Melemah
Pergerakan rupiah pada awal perdagangan menunjukkan dinamika yang cukup tajam.
Pada pukul 09.05 WIB, rupiah sempat dibuka menguat tipis 0,02 persen atau 4 poin ke level Rp17.607 per dolar AS.
Namun penguatan tersebut tidak bertahan lama. Pada pukul 10.57 WIB, rupiah berbalik melemah 0,22 persen atau 38 poin ke level Rp17.649 per dolar AS.
Pada waktu yang sama, indeks dolar AS (DXY) tercatat menguat 0,21 persen ke posisi 99,33.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan eksternal masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pasar valuta asing domestik.
Konflik Iran-AS Jadi Perhatian Pasar
Ibrahim menilai salah satu sentimen eksternal utama yang membebani rupiah adalah kembali memuncaknya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat.
Konflik tersebut disebut memasuki bulan ketujuh dan belum menunjukkan tanda-tanda kuat menuju penurunan eskalasi. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi minyak mentah global.
Menurut Ibrahim, meningkatnya risiko geopolitik membuat pelaku pasar memperhitungkan premi risiko yang lebih tinggi dalam harga minyak mentah.
“Kondisi ini mendorong para pedagang untuk memperhitungkan premi risiko yang jauh lebih tinggi dalam harga minyak mentah,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (11/9/2026).
Harga Minyak Brent Tembus US$107,63
Tekanan terhadap rupiah semakin kompleks karena harga minyak mentah dunia kembali melonjak.
Mengacu pada data Trading Economics per 10 September 2026, harga minyak mentah Brent telah berada di level US$107,63 per barel.
Angka tersebut menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan posisi pada Juli 2026, ketika Brent sempat diperdagangkan di kisaran US$71,80 per barel.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian serius bagi Indonesia karena Indonesia merupakan importir neto minyak. Dengan demikian, lonjakan harga minyak global berpotensi meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi sekaligus memberikan tekanan terhadap stabilitas nilai tukar.
Risiko Fiskal Indonesia Meningkat
Dari sisi domestik, Ibrahim menilai harga minyak di atas US$100 per barel dapat menjadi tantangan bagi ketahanan fiskal Indonesia.
Kenaikan harga minyak yang berada di atas asumsi dalam APBN 2026 berpotensi meningkatkan kebutuhan anggaran untuk subsidi dan kompensasi bahan bakar minyak (BBM).
Jika beban subsidi meningkat terlalu besar, risiko terhadap defisit fiskal juga ikut membesar.
Pemerintah kemudian menghadapi dilema. Mempertahankan subsidi BBM dapat meningkatkan tekanan terhadap anggaran, sedangkan menaikkan harga BBM berpotensi mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat.
“Pemerintah dihadapkan pada dilema kebijakan fiskal dan moneter,” ujar Ibrahim.
Menurutnya, kenaikan harga BBM dapat memicu inflasi lebih tinggi, menurunkan daya beli masyarakat, dan pada akhirnya berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Mata Uang Asia Juga Bergerak Beragam
Tekanan terhadap rupiah terjadi bersamaan dengan pergerakan beragam mata uang utama Asia.
Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup melemah 0,36 persen ke level Rp17.611 per dolar AS.
Sejumlah mata uang Asia lainnya juga mengalami pelemahan, antara lain:
Ringgit Malaysia: melemah 0,09 persen
Rupee India: melemah 0,28 persen
Peso Filipina: melemah 0,26 persen
Namun sejumlah mata uang Asia lainnya justru mampu menguat, yakni:
Won Korea: menguat 0,38 persen
Dolar Singapura: menguat 0,02 persen
Yuan China: menguat 0,03 persen
Baht Thailand: menguat 0,09 persen
Yen Jepang: menguat 0,10 persen
Pergerakan tersebut mencerminkan tingginya sensitivitas pasar Asia terhadap perkembangan geopolitik, harga komoditas energi, serta arah kebijakan moneter global.
Rupiah Masih Dibayangi Ketidakpastian
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, rupiah diperkirakan masih akan bergerak volatil dalam perdagangan pekan ini.
Untuk Senin, 14 September 2026, rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.610–Rp17.650 per dolar AS.
Sementara dalam satu pekan ke depan, rentang pergerakan diperkirakan berada pada Rp17.500–Rp17.850 per dolar AS.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor domestik. Perkembangan konflik Iran-AS, harga minyak mentah yang kembali melonjak, penguatan dolar AS, serta potensi meningkatnya beban subsidi BBM menjadi kombinasi sentimen yang perlu dicermati.
Jika harga minyak dunia terus bertahan di atas US$100 per barel dan ketegangan geopolitik tidak mereda, ruang pergerakan rupiah diperkirakan tetap sangat sensitif terhadap perubahan sentimen pasar global.
Sumber: Bisnis.com, 14 September 2026
Penulis: I Putu Gede Rama Paramahamsa
Editor: Ibad Durrohman
Saya juga bisa membuatkan �⁠versi lebih tajam untuk portal berita/YouTube, lengkap dengan �⁠judul click-worthy, �⁠lead yang lebih kuat, dan �⁠narasi 5W+1H tanpa mengubah fakta utama.

Posting Komentar