10 Profesi yang Paling Banyak Terdampak PHK, Ini Penyebab Utamanya

Daftar Isi


10 Profesi yang Paling Banyak Terdampak PHK, Ini Penyebab Utamanya

Jakarta — Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih menjadi salah satu tantangan serius bagi dunia ketenagakerjaan. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), tekanan efisiensi, ketidakpastian ekonomi, serta perubahan pola kerja membuat sejumlah profesi menghadapi risiko pengurangan tenaga kerja yang semakin besar.

Data World Economic Forum (WEF) menunjukkan bahwa 41% perusahaan di dunia berencana mengurangi jumlah karyawan secara signifikan hingga 2030. Perubahan tersebut tidak terlepas dari meningkatnya penggunaan teknologi dan otomatisasi yang memungkinkan sejumlah pekerjaan dilakukan dengan bantuan mesin maupun sistem digital.

Di Indonesia, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 23.470 pekerja terkena PHK sepanjang Januari-Mei 2026. Jumlah tersebut juga mengalami peningkatan sebanyak 8.919 kasus dalam periode satu bulan.

Sementara itu, laporan JobStreet bertajuk Hiring, Compensation, and Benefits 2025 mencatat bahwa 42% perusahaan di Indonesia melakukan pengurangan tenaga kerja pada 2024. Pengurangan tersebut dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari PHK secara langsung hingga tidak mengisi kembali posisi yang kosong akibat karyawan pensiun.

Pekerja tetap penuh waktu menjadi kelompok yang paling banyak terdampak, dengan proporsi 27%, kemudian disusul pekerja paruh waktu, kontrak, dan temporer.

10 Profesi yang Paling Banyak Terdampak PHK

Berdasarkan data JobStreet sepanjang 2024, berikut profesi yang tercatat paling banyak mengalami pengurangan tenaga kerja:

Administrasi dan Sumber Daya Manusia (SDM): 29%

Manajemen: 22%

Akuntansi: 16%

Marketing/Branding: 15%

Manufaktur: 14%

Sales/Business Development: 12%

Corporate Sales/Business Development: 11%

Teknologi Informasi (IT): 10%

Engineering: 10%

Legal/Compliance: 8%


Data tersebut menunjukkan bahwa dampak PHK tidak hanya terjadi pada pekerjaan yang bersifat administratif atau pekerjaan manual. Sejumlah posisi profesional, termasuk bidang IT, engineering, akuntansi, pemasaran, hingga hukum dan kepatuhan, juga menghadapi tekanan akibat perubahan strategi perusahaan dan perkembangan teknologi.

Enam Faktor Utama Penyebab PHK

Terdapat sejumlah alasan yang mendorong perusahaan melakukan pengurangan tenaga kerja di Indonesia.

Pertama, efisiensi biaya operasional. Perusahaan melakukan penghematan untuk menjaga kondisi keuangan dan mempertahankan keberlangsungan bisnis.

Kedua, proyeksi ekonomi yang memburuk. Ketidakpastian ekonomi dapat membuat perusahaan menahan ekspansi dan mengurangi biaya tenaga kerja.

Ketiga, pergeseran menuju model tenaga kerja fleksibel. Perusahaan semakin banyak menggunakan pola kerja yang memungkinkan penyesuaian jumlah tenaga kerja sesuai kebutuhan bisnis.

Keempat, restrukturisasi internal. Perubahan organisasi, penggabungan divisi, maupun perubahan strategi bisnis dapat menyebabkan sejumlah posisi tidak lagi dibutuhkan.

Kelima, otomatisasi dan perkembangan teknologi. Penggunaan AI, perangkat lunak, robotik, dan sistem digital membuat sebagian pekerjaan dapat dilakukan secara lebih otomatis.

Keenam, meningkatnya penggunaan tenaga outsourcing. Sebagian pekerjaan dialihkan kepada pihak ketiga sehingga perusahaan dapat menyesuaikan struktur biaya dan kebutuhan tenaga kerja.

Ancaman Sekaligus Perubahan Dunia Kerja

Tren tersebut menunjukkan bahwa dunia kerja sedang mengalami perubahan besar. Profesi yang sebelumnya dianggap relatif aman juga tidak sepenuhnya terbebas dari risiko pengurangan tenaga kerja.

Perkembangan AI dan otomatisasi bukan berarti seluruh pekerjaan manusia akan hilang. Namun, jenis pekerjaan dan keterampilan yang dibutuhkan perusahaan diperkirakan terus berubah.

Karena itu, kemampuan beradaptasi, meningkatkan keterampilan digital, serta menguasai kompetensi yang sulit digantikan teknologi menjadi semakin penting bagi pekerja untuk menghadapi perubahan pasar tenaga kerja hingga beberapa tahun ke depan.

Posting Komentar